BLANTERVIO103

Profesi Dan Tugas Guru Dalam Proses Pembelajaran (Lengkap)

Profesi Dan Tugas Guru Dalam Proses Pembelajaran (Lengkap)
1/16/2019
Hanya untuk catatan pribadi saja sebagai guru, yang kadang lupa, mungkin saja artikel wacana profesi dan kiprah guru dalam proses pembelajaran ini bermanfaat juga untuk anda sebagai guru.

Profesi ialah salah satu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian dari para anggotanya, memakai tehnik ilmiah serta pengabdian yang tinggi serta keahliannya diperoleh dari forum pendidikan khusus dengan kurikulum yang sanggup dipertanggungjawabkan.

Profesional ialah orang yang menyandang suatu profesi, berpenampilan sesuai dengan profesinya
Profesionalisme, menunjuk pada komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya secara terus menerus sesuai dengan profesinya.

Profesionalitas, mengacu pada sikap para anggota profesi terhadap profesinya serta derajat pengetahuan serta keahlian yang mereka miliki dalam rangka melaksanakan pekerjaanya.

Profesionalisasi, peningkatan kualifikasi maupun kemampuan anggota profesi dalam mencapai kriteria standart dalam penampilannya sebagai suatu profesi

A. Ciri – ciri profesional yaitu :

1. mempunyai standar unjuk kerja ( mempunyai hukum yang terang wacana hak yang dikerjakan )
2. anggota profesinya menerima pendidikan tinggi yang memperlihatkan dasar pengetahuan yang bertanggungjawab
3. mempunyai forum pendidikan khusus yang menghasilkan tenaga profesi yang dibutuhkan
4. mempunyai organisasi profesi yang memperjuangkan hak –hak anggotanya dan bertanggungjawab meningkatkan profesi yang bersangkutan
5. adanya ratifikasi yang layak dari masyrakat
6. adanya sistem imbalan yang memadai sehingga anggota profesi sanggup hidup dari profesinya
7. mempunyai kode etik yang mengatur setiap anggota profesi

B. Mengapa pekerjaan harus prifesional dan bagimana cara – caranya ?

Pekerjaan harus profesional lantaran tuntutan masyarakat untuk sanggup memperlihatkan pelayanan yang terbaik, bagi seorang anggota profesi melaksanakan pekerjaanya dengan profesional setiap anggota profesi baik secara sendiri maupun bahu-membahu melalui wadah organisasi profesi sanggup berguru untuk mendalami pekerjaan yang sedang disandangnya. Dan berguru dari masyarakat apa yang menjadi kebutuhan mereka ketika ini maupun yang akan datang.

II. Pengertian dan profesi keguruan

A. pengertian profesi guru

Pekerjaan guru belum sepenuhnya dikatergorikan sebagi suatu profesi yang utuh lantaran belum semua ciri-ciri terpenuhi profesi kependidikan khususnya profesi keguruan kiprah utamanya ialah melayani masyarakat dalam dunia pendidikan. Makara profesionalisme dalam bidang keguruan mengandung arti peningkatan segala daya dan usaha dalam rangka pencapaian secara optimal layanan yang diberikan kepada masyarakat.

B. Perlunya profesionalisasi dalam pendidikan

Menurut Sanusi et al ( 1991:23 ) perkiraan yang melandasi perlunya profesionalisasi dalam pendidikan:
1. subyek pendidik
2. pendidikan dilakukan secara internasional
3. teori pendidikan merupakan balasan kerangka hipotesis dalam menjawab problem pendidikan
4. pendidikan bertolak dari perkiraan pokok wacana manusia
5. inti pendidikan terjadi dalam prosesnya
6. sering terjadinya dilema antara tujuan utama pendidikan

C. Syarat-syarat profesi guru

Guru profesional harus mempunyai kompetensi berikut :
1. kompetensi profesional, mempunyai pengetahuan yang luas dan dalam dari bidang study yang akan diajarkan, penguasaan metode, dalam proses berguru mengajar.
2. kompetensi personal, berkepribadian yang mantab sehingga bisa menjadi sumber identifikasi bagi subyek, yang bisa diteladani.
3. kompeetensi sosial, memperlihatkan kemampuan berkomunikasi sosial dengan murid, sobat guru, kepala sekolah bahkan masyrakat luas.
4. kemampuan untuk memperlihatkan layanan terbaik, mengutamakan nilai kemannuasian dari pada materi

D. Ciri-ciri profesional keguruan

Menurut National Educatian Association (NEA )1948 :
1. jabatan yang melibatkan kegiatan intelektual
 mengajar dengan melibatkan upaya – upaya yang sifatnya sangat didominasi kegiatan intelektual
2. jabatan yang menggeluti bidang batang tubuh ilmu yang khusus
 jabatan yang mempunyai monopoli pengetahuan yang memisahkan anggota mereka dari orang awam dan memungkinkan mereka mengadakan pengawasan wacana jabatanya.
3. jabatan yang memerlukan persiapan latihan yang lama
 persiapan profesional yang cukup usang perlu untuk mendidik guru yang berwenang
4. jabatan yang memerlukan latihan
 dalam jabatan yang berkesinambungan cenderung memperlihatkan bukti sebagai jabatan profesional
5. jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang permanent
6. jabatan yang menentukan hukum bakunya sendiri
 jabatan guru menyangkut hajat hidup orang banyak sehingga pembakuan jabatan guru tidak sanggup diciptakan anggota profesi itu sendiri.
7. jabatan yang mementingkan layanan diatas kepentingan pribadi
8. jabatan yang mempunyai organisasi profesional yang kuat dan terjalin rapat guna mewadahi tujuan bersama dan melindungi anggota.

E. kode etik guru

Kode etik guru indonesia berdasarkan PGRI 1973 ialah landasan moral dan pedoman tingkah laris guru warga PGRI dalam melaksanakan panggilan pengabdianya sebagai seorang guru.
Tujuan kode etik yaitu :
1. menjunjung tinjggi martabat profesi
2. menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggotanya
3. meningkatkan pengabdian anggota profesi
4. meningkatkan mutu profesi
5. meningkatkan mutu organisasi profesi
6. kode etik ini ditetapkan dalam kongres ke XIII 1973 dijakarta dan disempurnakan pada kongres ke XIV 1989 Di Jakarta.

F kode etik guru Indonesia

1. guru berbhakti membimbing akseptor didik untuk membentuk insan indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila
2. guru mempunyai dan melaksanakan kejujuran profesional
3. guru berusaha memperoleh gosip wacana peseta didik sebagai materi melaksanakan bimbingan dan pembinaan
4. Guru membuat suasana sekolah untuk menujang berhasilnya proses berguru mengajar.
5. guru memelihara hubungan baik dengan wali murid dan masyrakat sekitar untuk membina kiprah serta dan rasa tanggungjawab bersama terhadap pendidik.
6. guru secara pribadi dan bersama berbagi dan meningkatkan mutu dan martabat profesinya
7. guru memelihara hubungan seprofesi semangat kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial
8. guru secara bahu-membahu memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana usaha dan pengabdian.
9. guru melaksanakan segala kecerdikan pemerintah dalam bidang pendidikan

III. Latar Belakang Dan Ruang Lingkup Profesi Keguruan

A. Sejarah Kualifikasi Guru

Pada jaman kolonial Belanda guru mula – mula diangkat dari orang yang yang tidak dididik secara khusus menjadi guru, guru dari lulusan sekolah guru pertama ( kweek school ) di Solo 1952. Karena kebutuhan guru mendesak maka pemerintah hindia Belanda mengangkat lima macam guru :
1. guru sekolah guru yang dianggap sebagai guru berwenang penuh
2. guru bukan lulusan sekoah guru tapi lulus ujian sebagai guru
3. guru bantu yang lulus ujian guru bantu
4. guru yang dimagangkan guru senior ( calon guru )
5. guru lantaran keadaan mendesak warga yang pernah mengecap pendidikan

Lembaga pendidikan khusus atau kursus yang mencetak guru menyerupai Hegore Kweekschool ( HKS ) untuk guru HIS dan kursus Hoofdacter ( HA ) untuk calon kepala sekolah. Keadan ini berlanjut hingga jaman pendudukan Jepang dan awal perang kemerdekaan yang diadaptasi dengan waktu itu dan hingga ketika ini kita punya forum pendidikan guru tunggal, Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ( LPTK ).

Pada jaman Hindu, Budha dan kerajaan – kerajaan Islam guru mempunyai status yang sangat tinggi dalam masyarakat, berwibawa dan dianggap sebagai orang yang serba tahu. Guru tidak hanya mendidik murid tetapi juga masyarakat dan tempat bertanya, untuk memecahkan masalah.Seiring waktu dan kemajuan zaman wibawa itu tergerus oleh imbalan dan balas jasa.

B. Fungsi organisasi profesi guru

Organisasi Profesi guru kita yaitu PGRI yang didirikan di Surabaya tanggal 25 November 1945 sebagai wujud aspirasi warga negara indonesia dalam mewujudkan cita –cita usaha bangsa
Ada empat misi utama PGRI :
1. Misi Politis/ Ideologis
2. Misi Persatuan/ Organisatoris
3. Misi Profesi
4. Misi kesejahteraan

C. Jenis Organisasi Profesi guru

Selain PGRI ada organisasi guru yang disebut Musyawarah Guru Mata Pelajaran ( MGMP) atas anjuran pejabat Depdiknas yang bertujuan untuk meningkatkan mutu profesionalisme guru dalam kelompoknya. Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia ( ISPI ) yang sekararng mempunyai divisi antara lain Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia ( IPBI ), Himpunan Sarjana Pendidik Bahasa Indonesia ( HSPBI ). Himpunan Sarjana Administrasi Pendidik Indonesia ( HISAPIN ).

D. Ruang Lingkup Profesi Keguruan 

Peran guru diwujudkan untuk mencapai perkembangan siswa secara optimal untuk itu peranan profesional meliputi layanan instruksional sebagai kiprah utama guru serta layanan manajemen derma merupakan pendukungnya
- penyelenggaraan proses berguru mengajar yang menempati porsi terbesar profesi keguruan
- kiprah yang berafiliasi dengan membantu murid dlam mengatasi problem belajar/pribadi dan sanggup menghipnotis keberhasilan pembelajaran.
- Mengelola sekolah ( peranan guru menjalankan mekanisme mekanisme utnuk kelancaran kiprah guru )
Ruang lingkup kerja guru :
a. kemampuan profesional , meliputi :
- penguasaan materi
- penguasaan dan penghayatan akan landasan
- penguasaan proses pendidikan
b. kemampuan sosial
- bisa menyesuaikan dengan lingkungan kerja sekitar
c. kemampuan personal
- penampilan sikap yang positif terhadap tugas
- pemahaman penghayatan

Kehandalan kerja sanggup dilihat dari :
1. mengetahui, memahami, dan menerapkan apa yang harus dikerjakan oleh guru
2. memahami mengapa ia harus melaksanakan itu
3. memahami dan menghormati batas kemampuan dan kewenangan profesinya dan menghormati profesi lain
4. mewujudkan pemahaman dan penghayatan dalam perbuatan mendidik mengajar dan melatih
Ruang lingkup profesi guru dibagi dua gugus :
1. gugus pengetahuan dan penguasaan tehnik dasar profesional
2. gugus kemampuan profesional

Profil kemampuan dasar guru yang harus dimiliki seorang profesional :
1. menguasai bahan
2. mengelola jadwal berguru mengajar
3. mengelola kelas
4. memakai media/sumber
5. menguasai landasan pendidikan
6. mengelola interaksi berguru mengajar
7. menilai prestasi siswa untuk ependidikan pengajaran
8. melaksanakan jadwal bimbingan dan konseling
9. menyelenggarakan manajemen sekolah
10. memahami prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan untuk keperluan pengajaran.

Profesi Keguruan

I. Kompetensi kepribadian guru

Dalam pembelajaran di sekolah dan masyarakat seorang pendidik memerlukan kompetensi yang dalam arti luas yaitu kemampuan standart yang dibutuhkan untuk menggambarkan kualifikasi seseorang baik secara kualitatif maupun kuantitatif dalam melaksanakan tugasnya.
Kompetensi kepribadian guru meliputi sikap, nilai-nilai, kepribadian, sebagai element perilaku, performent yang sesuai dengan bidang pekerjaan.

A. Pengertian

Kompetensi kepribadian ialah Kompetensi yang berkaitan dengan sikap pribadi guru itu sendiri yang kelak harus mempunyai nilai – nilai luhur sehingga terpancar dalam sikap sehari – hari.
Kompetensi kepribadian guru dalam fungsinya ialah untuk membimbing dan menjadi suri tauladan secara bersama –sama berbagi kreativitas dan membangkitkan motivasi berguru dan dorongan untuk maju kepada anak didik.

Menurut Sanusi et al ( 1991) kemampuan pribadi guru meliputi hal-hal :
1. penampilan sikap yang positiv terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru
2. pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut seorang guru
3. penampilan sebagai panutan dan tumpuan bagi para siswanya.

Beberapa Kompetensi kepribadian guru :
1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. percaya kepada diri sendiri
3. tenggang rasa dan toleransi
4. bersikap terbuka dan demokratis
5. sabar dalam menjalankan profesi keguruanya
6. berbagi diri bagi kemajuan profesinya
7. memahami tujuan pendidikan
8. bisa menjalin hubungan insani
9. memahami kelebihan dan kekurangan diri
10. kreatif dan inovatif dalam berkarya

II. Kompetensi sosial guru 

Kompetensi sosial guru ialah kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntukan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru,Fungsi Kompetensi sosial guru :
1. motivator dan inovator dalam pembangunan pendidikan
 memberikan motivasi kepada masyarakat untuk ikut serta menyukseskan jadwal wajib berguru dan mendorong untuk menyekolahkan anaknya kejenjang yang lebih tinggi.
2. perintis dan penggerak pendidikan
 Guru memperlihatkan beasiswa pada siswa berprestasi yang kurang mampudisekolahnya
3. penelitian danpengkajian ilmu pendidikan
 Guru dituntut untuk mencari permnasalahan pendidikan yang ada dimasyarakat serta sanggup mencari solusi yang baik
4. pengabdian

 Guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan perlu melibatkan diri dalam kegiatan di masyarakat.
Beberapa Kompetensi sosial yang perlu dimiliki oleh guru, Cece Wijaya ( 1994 ):
1. terampil berkomunikasi dengan akseptor didik dan orang bau tanah akseptor didik
2. bersikap simpatik
3. sanggup bekerjasama dengan dewan pendidikan / komite sekolah
4. pintar bergaul dengan kawan sekerja dan kawan pendidikan
5. memahami dunia sekitarnya ( lingkungan )

III. Komponen Kompetensi profesional

Komponen Kompetensi profesional guru ialah sejumlah Kompetensi yang berafiliasi dengan profesi yang menuntut aneka macam keahlian dibidang pendidikan/ keguruan, berdasarkan Wijaya ( 1982 ) ialah : Kemampuan mengetahui, memahami, dan mengaplikasikan, menganalisis dan mensitesiskan dan mengevaluasi sejumlah pengetahuan keahlian yang diajarnya.

Beberapa komponen Kompetensi profesional guru :

1. Pengelolaan Program Belajar Mengajar

Kemampuan pengolahan jadwal berguru mengajar meliputi kemampuan merumuskan tujuan instruksional, kemampuan mengenal dan memakai metode mengajar, kemampuan menentukan dan menyusun mekanisme instruksional yang tepat, kemampuan pelaksanaan berguru mengajar, kemampuan mengenal potensi akseptor didik, kemampuan merencanakan dan melaksanakan pengajaran remidial.
2. penguasaan materi pengajaran beserta konsep
3. pengelolaan kelas
4. pengelolaan dan penggunaan media serta sumber belajar
5. penguasaan landasan-landasan pendidikan
6. kemampuan menilai prestasi berguru mengajar
7. memahami prinsip-prinsip pengelolaan forum dan jadwal pendidikan disekolah
8. menguasai metode berfikir
9. meningkatkan kemampuan dan menjalankan misi profesional
10. memperlihatkan derma dan bimbingan kepada akseptor didik
11. mempunyai wawasan wacana penelitian pendidikan
12. bisa menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
13. bisa memahami karakteristik akseptor didik
14. bisa menyelenggarkan manajemen sekolah
15. mempunyai wawasan wacana penemuan pendidikan
16. berani mengambil keputusan
17. memahami kurikulum dan perkembanganya
18. bisa bekerja berencana dan terprogram
19. bisa memakai waktu secara tepat

IV. Hubungan Penguasaan Materi Dengan Kemampuan Mengajar.

A. penguasaan materi 

Dua cara memandang materi/ materi bimbing yaitu sudut isi materi bimbing dan sudut cara pengorgonisasian materi ajarnya.
Dilihat dari sudut isi materi ada enam macam :
1. fakta, materi isinya berupa sejumlah fakta/ gosip yang kebenaranya tidak diragukan.
2. konsep, materi isinya berupa gagasan, ide, pendapat, teori/ dalil.
3. prinsip, materi yang memperlihatkan landasan sehingga setiap tindakan yang dilakukan sanggup dikontrol dengan baik
4. ketrampilan, materi yang meliputi ketrampilan motorik
5. pemecahan masalah
6. proses
dari sudut pandang cara pengorganisasian :
1. materi bidang study linier
2. materi bidang study kumulatif
3. materi bidang study praktikal
4. materi bidang study eksperensial

Mengenal Dan Menggunakan Metode Mengajar

Hubungan antara penguasaan materi bimbing dan kemampuan mengajar ialah sebagai berikut:
1. penguasaan materi menjadi landasan pokok bagi seorang guru untuk mempunyai kemampuan mengajar
2. mempunyai wawasan yang mendalam terhadap materi ajar.
3. menguasai materi bimbing yang akan disampaikan
4. menguasai materi bimbing yang lebih kreatif dan inovatif dalam memberikan materi ajarnya

V. Keputusan Situasional Dan Transaksional

keputusan situasional menyangkut keputusan wacana apa dan bagaimana pengajaran akan diwujudkan berdasarkan analisis.Keputusan situasional diambil ketika menyusun persiapan tertulis dalam bentuk satuan pelajaran ( satpel ), Keputusan Transaksional ialah merupakan penyesuaian yang dilakukan oleh guru yang berkaitan dengan pelaksanaan dari keputusan situasional berdasarkan umpan balik yang diperoleh guru dan interaksinya dengan siswa maupun antar siswa dalam PBM yang sedang berlangasung keputusan transaksional diambil lantaran adanya perubahan situasi dan kondisi yang berkembang dalam melaksanakan PBM.

Berbagai Peran Guru Dalam Pembelajaran

I. Peran guru dalam memahami siswa sebagai dasar pembelajaran

A. Definisi dan Makna Perkembangan 

pengertian perkembangan mengandung implikasi bahwa perubahan yang bersifat perkembangan ialah perubahan yang beraturan atau terjadwal mengikuti tahap atau sekuensi tertentu.
Perkembangan ialah proses yang kompleks lantaran perkembangan merupakan hasil dari aneka macam proses berfikir kognitif, proses biologis, sosial, moral, dalam pandangan usang ada 3 bab yaitu :
1. pertumbuhan dan perkembangan fisik ( badaniah dan ketrampilan motorik )
2. perkembangan aspek kognitif ( belajar, bahasa dan berfikir )
3. perkembangan psikososial ( emosi, kepribadian dan hubungan antar pribadi )

B. Aspek-Aspek Perkembangan Anak Sekolah Dasar

1. aspek motorik dan persepsi
Pada masa sekolah dasar perkembangan motorik anak menjadi lebih terkoordinasi dan pada masa ini anak lebih siap mempelajari aneka macam keterampilan contohnya dalam ketrampilan motorik bernafsu anak laki-laki biasanya lebih unggul dari pada perempuan sebaliknya dalam ketrampilan motorik halus anak perempuan lebih unggul.
2. implikasi bagi proses pembelajaran
Ada beberapa implikasi :
- perkembangan motorik
- faktor pertumbuhan otak
- faktor kemampuan konsentrasi dan daya subjektivitas anak

C. perkembangan kognitif dan kesiapan belajar

Perkembangan kognitif ialah perubahan struktur denah yang intinya kemampuan/ kecakapan seseorang untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
Plaget mendiskripsikan perkembangan kognitif menjadi empat periode :
1. periode sensomotorik ( 0 – 11/2 tahun)
2. periode operasi awal ( 11/2 – 7 tahun )
3. periode operasi konkrit ( 7 – 12 tahun )
4. periode operasi formal ( 12 tahun keatas )

Kesiapan berguru dan implikasi sebagai pembelajaran mengingat tahap perkembangan kognitif menyerupai itu akseptor didik dharapkan bisa mengorganisasikan hasil berfikir dan berperilaku secara konsisten dan logis dengan jalan menghadapkan anak pada kiprah –tugas serta tingkat paling bersahabat dengan tahap perkembangan pada ketika ini.

D. perkembangan pribadi dan sosial

Perkembangan pribadi menyangkut konsep diri, emosi, independensi dan tanggung jawab . Dalam aspek-aspek konsep diri siswa masih cenderung berorientasi pada dri sendiri serta cita-cita untuk menonjolkan diri masih cukup tinggi. Dalam aspek emosi anak sekolah dasar cenderung belum stabil serta tidak toleran terhadap orang lain. Dalam aspek kesadaran dan tanggung jawab tampak pada hsarat untuk menentukan kegiatan sendiri, mengambil inisiatif, kesediaan bekerja sama, keberanian mengambil resiko dan sikap tidak tergantung pada guru.Dampak dalam aspek sosial bisa dilihat dari hubungan sosial karakteristik kelompok dan perkembangan etika.

E. pendekatan perkembangan dalam pembelajaran di sekolah dasar

Pada hkikatnya perkembangan siswa sekolah dasar bersifat holistis dan masih mneyatu dengan dunianya, maka isi mata pelajaran sekolah dasar ialah sesuatu yang terpadu dengan kehidupan anak dan inti dari materi pembeljaran terletak pada subjek anak didik sendiri bukan mata pelajaran, Pendekatan Developmentally Appropriate Practice ( DAP ) merupakan alternativ pembelajaran disekolah dasar yang menekankan prinsip ketercernaan, yang sistematis kiprah bimbing dan materi bimbing dirancang dan dilaksanakan sejalan dengan karakterisktik perkembangan siswa terutama dikelas awal.

Konsep perkembangan mengandung dua dimensi yaitu dimensi umur dan individual. Satu premis yang paling penting wacana perkembangan insan ialah bahwa semua aspek perkembangan fisik, emosiopnal sosial, dan kognitif bersifat terpadu, aspek satu besar lengan berkuasa terhadap aspek yang lain, oleh lantaran itu pembelajaran pada usia sekolah dasar harus dihadapkan pada kegiatan yang aktif dari pada yang pasif. Sisi penting dari pendekatan perkembangan ialah pengetahuan wacana hal apa yang secara individual padan bagi anak tertentu didalam kelas dengan cara memperlihatkan bimbingan yang didasari sikap menghargai anak maka dari itu guru dan orang bau tanah perlu aneka macam pengetahuan dan wawasan wacana anak.

II. Peran guru dalam pengembangan rancangan pembelajaran

A. Hakikat Proses Pembelajaran

proses pembelajaran sebagai proses implikasi kurikulum yang berdasarkan kiprah guru untuk mengaplikasikan dan mengimplementasikan jadwal – jadwal pembelajaran dalam satu tindakan yang akurat dan actual.

Pembelajaran sebagai inkuiri refleksi mengandung makna sebagai proses sintesis analisis dengan kata lain proses pembelajaran ini menekankan pada unsur acara dan dinamika proses yang harus diahami dan dihayati oleh seorang guru.

Pembelajaran sebagai tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menjadi tolak ukur untuk menentukan materi ajar, merancang isi pembelajaran, berbagi mekanisme pembelajaran serta tes dan ujian. Semua aspek jadwal pembelajaran merupakan instrumen untuk mencapai tujuan dalam artian menelaah jadwal pembelajaran secara sistematis dan cermat, maka pertama kali yang harus dicermati ialah tujuan yang hendak kita capai.

B. mekanisme pengembangan rancangan pembelajaran

Kegiatan dalam menyusun rancangan pembelajaran meliputi :
1. analisis kurikulum
2. menyiapkan tujuan instruksional
3. rancangan kegiatan pembelajran
setiap kegiatan pembelajaran dibagi dalam tiga bab yaitu : kegiatan awal,kegiatan inti dan kegiatan penutup
4. perencanaan evaluasi
kegiatan terdiri kegiatan penilaian sumatif dan penilaian formatif.

III. Peran guru dalam pelaksanaan pembelajaran dan manejemen kelas

Proses pembelajaran ialah proses membantu siswa berguru yang ditandai dengan perubahan sikap baik dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotorik. Ketercapaian tujuan pembelajaran sanggup diatakan sebagai dampak dari proses pembelajaran.

Dampak pembelajaran dibedakan dalam dua bab :
• Dampak instruksional ( eksklusif ) ialah dampak yang ditimbul kan oleh kegiatan pembelajaran yang telah diprogramkan semula.
• Dampak pengiring ( tak eksklusif ) muncul sebagai imbas dari atau terjadi dari pengalaman lingkungan belajar

Oleh lantaran itu, seorang guru perlu memahami aneka macam pendekatan yang terdiri dari 9 pendekatan :
1. pendekatan otoriter,
2. pendekatan intimidasi,
3. pendekatan permisif, kiprah guru memaksimalkan kebebasan akseptor didik
4. pendekatan buku masak, kombinasi dari aneka macam pandangan
5. pendekatan untuk mencegah sikap akseptor didik yang tidak tepat
6. pendekatan modivikasi perilaku, mempercepat sikap yang dikehendaki dan mengurangi sikap yang tidak dikehendaki
7. pendekatan sosial emosional, berbagi iklim sosial emosional yang sehat dan positif
8. pendekatan sosial dalam kelas, mempercepat perkembangan terwujudnya kelompok yang efektif
9. pendekatan jamak ( pluralistik ), menentukan membuat dan memelihara kondisi kelas yang efektif

Masalah pengajaran manajemen kelas ialah dua hal yang sanggup dibedakan tetapi sulit dipisahkan.
Oleh alasannya ialah itu tahap pertama yang harus dilakukan guru ialah merumuskan spesifikasi kondisi kelas yang dikehendaki, manajemen kelas dikembangkan melalui tahap-tahap : perumusan kosndisi lokal, analisis kesenjangan, pemilihan taktik dan penilaian efektifitas strategi. Selain manajemen kelas penataan lingkungan fisik kelas juga memperlihatkan imbas yang cukup kuat kepada sikap guru dan akseptor didik

IV. Peran Guru Dalam Evaluasi Pembelajaran

A.Definisi dan tahapan Evaluasi

Evaluasi ialah proses pembentukan timbangan, bergantung kepada pengumpulan gosip yang mengarah pada pengumpulan gosip yang mengarah pada pengambilan keputusan. Dengan demikian terdapat tiga tahap dalam penilaian yang ditambah satu tahap untuk persiapan diantaranya ialah :
1. tahap persiapan
2. tahap memperoleh gosip yang diperlukan
3. tahap membentuk judgement
4. tahap memakai judgement untuk mengambil keputusan
sebelum tahapan itu dilakukan kita perlu menentukan dan menentukan alat untuk mengumpulkan informasi.

B. menentukan tehnik yang tepat 

dua hal yang perlu untuk ditempuh yaitu : Memilih tehnik yang tepat dan menentukan instrumen yang paling baik.

C. menulis butir soal yang efektif 

Butir soal harus dikembangkan atas dasar tujuan instruksional

D. mengolah hasil pengukuran

Informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan penilaian dijaring dengan tehknik – tehnik inkuiri, observasi, analisis, tes, pemilihan tehnik yang dipakai didasarkan atas jenis gosip yang harus diungkap sehingga dalam suatu penilaian bisa dipakai aneka macam tehnik sekaligus.

Misalkan dalam mengolah hasil pengukuran ada dua macam penilaian yaitu :
1. penilaian formatif
 adalah untuk mengetahui keberahasilan proses mengajar dalam mencapai tujuan instruksional yang sudah ditetapkan.
2. penilaian sumatif
 Adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan murid dalam kelas
pengolahan hasil pengukuran atas hasil berguru dimaksudkan untuk mengevaluasi proses dan hasil belajar.


Refleksi Dalam Tugas Dan Berbagi Bentuknya

A. Refleksi dalam tugas

Tujuan utuh pendidikan itu merupakan rujukan segenap upoaya pengembangan insan indonesia seutuhnya dan model rumusan tup wacana mausia sanggup berfariasi, sebagaimana tertuang dalam UU No 20 Th 2003 wacana pendidikan nasional pasal 03 dengan demikian citra insan indonesia seutuhnya sebagai refleksi TUP itu bukan hanya dikonseptualkan secara ideal dan abastrak saja melainkan sanggup juga dijabarkan.

Tindakan – tindakan yang seyogyanya dilakukan secara berjenjang dan sedikit demi sedikit diantaranya :
1. tingkat struktural ( organisasi penyelenggara sistem pendidikan nasional ditingkat pusat dan kawasan )
2. tingkat institusional ( satuan tingkat pelaksana penyelengara sistem pendidikan baik pada jalur sekolahan maupun laur sekolah )
3. tingkat operasional ( satuan pelaksanaan kegiatan proses pembelajaran

B Berbagai Bentuk Refleksi Profesional

Kemampuan seseorang untuk sanggup dan mau merenungkan, memahami dan menyadari pengalaman- pengalaman masa kemudian dal;am hidupnya merupakan hakikat refleksi diri. Melakukan refleksi profesional itu sangat penting , kiprah pekerjaan helping profesion sangat erat dengan problem kelangsungan hidup dan nasib masa depan klien/customer.misalnya jikalau konselor slah mendiagnosis problem yang dialami siswa yang pada awalnya membantu justru malah sebaliknya ( merusak ).

IPTEK sejkarang ini sangat menghipnotis bidang profesi kependidikan dan keguruan terutama dalam hal antara lain :
a. muatan dan kemasan kurikulum materi ajarnya
b. taktik dan metodologi atau teknolgi pembelajarannya
c. menejemen sistem pendidikan umumnya dan sistem pembelajaran pada khususnya
Fishbein Dan Ajzen ( 1975 ) memperlihatkan Tiga Kecenderungan dalam sikap terhadap suatu hal yang dihadapinya :
a. orang akan mendapatkan kenyataan apa adanya, maksudnya disini seorang guru/ pendidik itu menyikapi tugas2 profesioanalnya secara positiv
b. seseorang itu kemungkinan menyikapi suatu hal yang dihadapinya dengan diliputi keraguan – keraguan
c. orang sebaliknya akan menolak ( tiadak baiklah ) bahkan secara sadar maupun tidak sadar sangant menlak ( sangant tidak baiklah ) terhadap suatu hal yang dihadapinya, itu berarti seorang guru sangat mungkin menyikapi tugas-tugas profesi anak didiknya secara negatif.

Johnson dan kawan2 ( 1972 ) menempatkan unusur sikap dan kepribadian guru dalam posisi sturukrural perangkat komponen kopentensi/kemampuan profesional tenaga kependidikan dengan tujuan membangun perangkat komponen kopetensi prasyarat bagi terbentuknya kemahiran penampilan profesional yang bisa dirasakan langasung oleh klien atau siswa yang mendapatkan perlakuan darii guru yang bersangkutan.
Share This Article :

TAMBAHKAN KOMENTAR

3612692724025099404